Selasa, 15 Oktober 2019


JURNAL SKRINING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
Hasil gambar untuk logo unja
NAMA: TIURMA REFINA LESTARI SILABAN
NIM: RSA1C117011

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019


PERCOBAAN 6
I.                   JUDUL: SKRINING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM
II.                HARI/TANGGAL: RABU/ 16 OKTOBER 2019
III.             TUJUAN: - Dapat mengenal dan memahami teknik teknik skrining fitokimia bahan alam
-          dapat mengetahui jenis-jenis pereaksi yang digunakan dalam skrining fitokimia bahan alam
-          melakukan skrining fitokimia bahan alam dari suatu simplisa bahan alam
IV.             LANDASAN TEORI
      Kandungan kimia yang terdapat dalam makhluk hidup berdasarkan pada cara terbentuk dan fungsinya dapat dikelompokkan atas 2 kelompok besar, yaitu: 1) metabolit primer yang merupakan senyawa organik yang terlibat dalam proses metabolisme makhluk hidup tersebut seperti karbohidrat, lipid, protein, dan asam-asam amino. 2) metabolit sekunder yang merupakan hasil samping proses metabolisme alkanioda, steroida, flafonoida, fenolik, kumarin, koinon, saponin, tannin, lignan, dan glikosida, yang dikenal juga sebagai kimia bahan alam (natural product chemistry) (Horizon,2017).
      Flavonoid merupakan golongan fenol teerbesar yang senyawa yang terdiri dari C6-C3-C6 dan sering ditemukan diberbagai macam tumbuhan dalam bentuk glikosida atau gugusan gula bersenyawa pada satu atau lebih grup hidroksil fenolik (sirait,2007) flavonoid merupakan golongan metabolit sekinder yang disintesis dari asam piruvat melalui metabolisme asam amino. Flavonoid adalah senyawa fenol, sehingga warnanya berubah bila ditambah basa atau amoniak. Terdapat sekitar 10 jenis flavonoid yaitu antosianin protasionin, plovol, dan isoflavon (gunawan,2004).
Skrining fitokimia merupakan cara untik mengidentifikasi bioaktif yang belum tampak melalui suatu ter atau pemeriksaan yang dapat dengan cepat memisahkan antara bahan alam yang memiliki kandungan fitokimia tertentu dengan bahan alam yang tidak memiliki kandingan fitokimia tertentu. Srinning fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu penelitian fitokimia yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti. Metode skrining  fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting yang berperan dalam skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi (kristianti,2008).
       Triterpenoid senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C 30 asiklik, yaitu skualena. Triterpenoid dapat dipilah menjadi sekurang – kurangnya empat golongan senyawa : triterpena sebenarnya, steroid, saponin, dan glikosida jantung. Sterol adalah triterpena yang kerangka dasarnya system cincin siklopentana perhidrofenantrena. Dahulu sterol terutama dianggap sebagai senyawa satwa (sebagai hormone kelamine, asam empedu, dll), tetapi pada tahun – tahun terakhir ini banyak senyawa tersebut yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan (Tyler,1988).
       Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah penapis senyawa kimia atau biasa disebut dengan skrining fitokimia yang terkandung dalam tanaman. Metode ini digunakan untuk mendeteksi adanya golongan senyawa alkaloid, flavonoid, senyawa fenolat, tannin, saponin, kumarin, quinon, steroid / terpenoid. Skrining fitokimia adalah metode analisis untuk menentukan jenis metabolit sekunder yang terdapat dalam tumbuh – tumbuhan karena sifatnya yang dapat bereaksi secara khas dengan pereaksi tertentu. Skrining fitokimia dilakukan melalui serangkaian pengujian dengan menggunakan pereaksi tertentu (harborne,1987).
V.                ALAT DAN BAHAN
5.1.ALAT:
a.       Tabung reaksi 20bh
b.      Erlenmeyer 250ml
c.       Plat tetes
d.      Gelas kimia 200ml
e.       Pipet tetes
f.       Lumpang
g.      Corong gelas
h.      Gelas ukur
5.2.BAHAN
a.       Pereaksi dragendor
b.      Kloroform
c.       NaOH padatan
d.      Pereaksi meyer
e.       Shinoda
f.       Etanol
g.      Iodine
h.      Pereaksi wagner
i.        Metanol
j.        Brusin
k.      KI
l.        heksan
VI.             PROSEDUR KERJA

Adapun prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
a)   Pemeriksaan Alkaloida
1.    Dihaluskan simplisia tumbuhan sebanyak 2-4 gr pada lumpang dengan menambahkan sedikit kloroform dan pasir bersih (silica).
2.    Bahan tumbuhan yang sudah halus dibasahi dengan 10ml kloroform, lalu gerus lagi dan ditambahkan 10 ml kloroform amoniak 1/20 N dan gerus lagi.
3.    Saring bahan yang telah digerus tadi kedalam tabung reaksi, tambahkan 10 tetes larutan asam sulfat 2N, lalu dikocok.
4.    Dipisahkan dan didekantasikan lapisan asam kedalam tiga tabung reaksi kecil dan masing-masing tabung ditambahkan dengan satu tetes pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf.
b)   Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid
1.    Dimasukkan simplisia tumbuhan 5 gr kering yang telah dirajang halus kedalam erlenmeyer 250 ml. Lalu tambahkan dengan 25 ml etanol dan diaduk-aduk.
2.    Panaskan diatas penangas air selama 10 menit (jangan menggunakan api langsung), dan saring dalam keadaan panas.
3.    Diuapkan filtrat pelarutnya dengan rotary evaporator atau dengan menggunakan penangas air sehingga diperoleh ekstrak pekat etanol.
4.    Dititrasi ekstrak pekat etanol dengan sedikit eter dan beberapa tetes larutan eter ditempatkan dalam 2 lobang plat tetes dan biarkan kering.
5.    Ditambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat, diaduk dengan hati-hati.
6.    Ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat dan amati perubahan warna yang terbentuk.
7.    Periksalah reaksi dengan menambahkan asam sulfat pekat pada lobang plat tetes yang satu lagi, amati warna yang terjadi. Kalau terbentuk warna yang sama sangat boleh jadi contoh tumbuhan yang diperiksa tidak mengandung terpenoida tapi senyawa lain yang bereaksi dengan asam sulfat pekat.
c)    Pemeriksaan Flavonoida
1.    Diekstrasksi 0,5 gr simplisia tumbuhan yang telah dihaluskan dengan 10 ml etanol panas selama 5 menit dalam tabung reaksi.
2.    Disaring hasil ekstrak dan filtratnya ditambahkan beberapa tetes HCl pekat, lalu ditambahkan lebih kurang 0,2 gr bubuk magnesium. Bila timbul warna merah tua, menandakan contoh mengandung flavonoid. Cara uji teknik shinoda (Mg+HCl).
3.    Cara lain pengujian flavonoid, dengan menambahkan ekstrak etanol diatas dengan 2 tetes NaOH 10% . adanya flavonoid ditandai dengan perubahan warna kuning-orange merah.
d)   Pemeriksaan Saponin
1.    Dimasukkan lebih kurang 0,5 gr bahan tumbuhan kedalam tabung reaksi, lalu tambahkan 10 ml air panas dan biarkan menjadi dingin kemudian dikocok selama 10 detik.
2.    Bila terbentuk busa yang stabil setinggi 1-10cm selama 10 menit tidak hilang saat penambahan 1 tetes asam klorida 2N pada perlakuan ini, berarti tes saponin adalah positif.
e)    Pemeriksaan Kuinon
Dipotong-potong halus simplisia tumbuhan, kemudian diekstraksi dengan eter. Jika warna contoh yang diuji masuk kedalam pelarut eter boleh jadi zat warna yang ada adalah kuinon. 
f)    Pemeriksaan Kumarin
Ekstrak metanol atau ekstrak dari simplisia tumbuhan dapat dideteksi keberadaan kumarinnya dengan cara ekstrak etanol atau metanol dari contoh kromatografi lapis tipis, dengan menggunakan eluen etil asetat atau etil asetat : metanol (9:1) atau (8:2). Dibawah sinar ultraviolet gelombang panjang 360 nm kumarin biasanya akan berfloresensi biru dan kalau noda ini diberi uap ammonium akan terlihat noda yang berwarna kuning. 

Untuk membuat senyawa organik asam asam benzoat dan benzil alkohol:
pertanyaan:
1. mengapa pada pemeriksaan flavonoida simplisia yang telah dihaluskan dittambahkan etanol panas? apakah fungsi etanol tersebut?? 
2. Mengapa dalam melakukan skrinning fitokimia bahan alam menggunakan suatu simplisia suatu  tumbuhan, apa kandungan dan pengaruh dari penggunaan simplisian tersebut?
3. Mengapa pada uji flavonoid ditambahkan ekstrak etanol sebanyak 2 tetes? Apakah fungsi ekstrak etanol pada pengujian ini?


2 komentar:

  1. 3. ekstrak etanolditambahkan pada uji flavonoid untuk mengetahui apakah simpilisa yang digunakan mengandung flavonoid atau tidak ,dimana ekstrak etanol ini meruapak partisi cair-cair yang memakai pelarut n-heksana, etil asetat dan air

    BalasHapus
  2. 2. menurut saya mengapa harus tumbuhan karena pada tumbuhan banyak sekali kandungan bahan kimia seperti alkalod, flavonoid, saponin, terpenoid dll. dengan tumbuhanlah akan mempermudah kita untuk mengidentifikasi keberadaan senyawa kimia pada tumbuhan tersebut.

    BalasHapus

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

  LATAR BELAKANG MASALAH Kimia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bersifat fakta namun juga dapat di klasifikasikan ada yang b...