Senin, 28 September 2020

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

 LATAR BELAKANG MASALAH

Kimia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bersifat fakta namun juga dapat di klasifikasikan ada yang bersifat kontekstual dan konseptual. Pemelajaran kimia terdiri dari beberapa perhitungan, dan konsep dasar yang harusnya dipahami oleh siswa. Namun, kebanyakan guru yang hanya memanfaatkan beberapa media yang bersifat konvensional yang tidak membuat siswa menjadi tertarik dengan pembelajaran kimia.

Pada tuntutan kurikulum, bahan ajar mestinya dikembangkan setiap waktunya dalam dunia pendidikan. Hal ini diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Bahan ajar LKPD ini bermanfaat dikarenakan dapat didesain sesuai dengan keadaan peserta didik dan karakteristik sekolah (Wirdani,2019). LKPD merupakan suatu bahan ajar yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. LKPD berisi tentang lembaran-lembaran tugas yang dapat diisi oleh peserta didik, dialamnya terdapat langkah langkah dalam penyelesaian tugas. Tugas dalam LKPD juga dapat berisi permasalahan yang dapat menuntun siswa untuk memangun pengetahuannya sendiri, maupun secara berkelompok.

Didalam proses pembelajaran kontekstual ini adalah suatu pembelajarana yang bersifat konteks atau yang biasa disbeut dengan memaknai dari kata-kata yang terkandung juga didalam sebuah kalimat dalam suatu paragraf, dalam artian mencari makna yang lebih spesifik dari suatu kata atau kalimat, bahkan paragraf. Dengan mengaitkan materi disini, bermaksud mengaitkan materi dengan kehidupan atau nyata yang dapat dilihat dan dirasakn dalam kehidupan dan kebutuhan siswa untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dengan tujuan agar proses belajar dan mengajar lebih efisien dan efektif. Pendekatan ini disebut dengan pendekatan kontekstual.

Pengaitan materi ke dalam kehidupan nyata membuat peserta didik akan memperoleh pengalaman dan tidak hanya dengan menghafal, sehingga akan memberikan pengetahuan yang bermakna bagi peserta didik untuk kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dalam penelitian ini akan dilakukan pengembangan bahan ajar berupa LKPD berbasis pendekatan CTL untuk meningkatkan pemahaman konsep kimia pada materi Asam basa yang berjudul: “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Elektronik (E-LKPD) Dengan Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL)  Pada Materi Asam Basa Di SMAN 5 KOTA JAMBI”

PENELITIAN RELEVAN

Penelitian tentang pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Elektronik (E-LKPD) telah banyak dilakukan, dimana hasilnya yang dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam proses belalar mengajar disekolah. Menurut Fitriani dkk (2016) yang telah melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Lembar Kerja Kegiatan Peserta Didik (LKPD) Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Aktivitas Belajar Peserta Didik Pada Materi Larutan Penyangga”.  Hasil penelitian yang telah didapatkan, menunjukkan bahwa pengembangan LKPD berbasis masalah ini memiliki nilai yang positif yang mana pengembangan LKPD menggunakan model pembelajaran ADDIE, dimana peserta didik memiliki nilai response yang baik terhadap tugas yang ada dan peserta didik juga tertarik dan juga menimbulkan minat belajar siswa itu sendiri. Minat belajar siswa ini berdampak sangat baik bagi hasil belajar siswa berdasarkan hasil dari pre-test  dan post-test yang telah dilakukan peneliti melalui uji Wilcoxon yang hasilnya adalah LKPD yang berbasis masalah dapat meningkatkan konsep peserta didik.

Selanjutnya, penelitian yang telah dilakukan oleh Yosefa dan Imelda (2019) dengan judul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Elektronik Bermuatan Multimedia Untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Siswa Pada Tema Daerah Tempat Tinggalku Pada Siswa Kela IV Di Rutoroso Di Kabupaten Ngada”. Hasil penelitian yang telah didapatkan ada 3, yaitu (1) berdasarkan uji coba produk yaitu memiliki nilai yang sangat baik yang mana penilaiannya menggunakan produk bahasa, materi/isi yang digunakan, dan desain lkpd. Hasil yang didapatkan dari uji coba produk ini didapatkan berdasarkan lembar kuisioner yang dibagikan. Hasil yang diperoleh memiliki tingkat kualitas lembar kerja dengan  penilaian yang sangat baik, dan point tertinggi yang diapat yatitu pada aspek kesesuaian dan ukuran jenis huruf. (2) berdasarkan uji siswa dalam penggunaan produk memiliki kategori nilai yang sangat baik yang diperoleh berdasarkan lembar kuisioner yang dapat dikategorikan bahwa kualitas lembar kerja memiliki tanggapan yang baik pada kemenarikan cover yang telah diuat. (3) berdasarkan uji keefektivan siswa dalam pengembangan lembar kerja menggunakan multimedia diperoleh dari hasil tes pengetahuan siswa dalam soal. Keefektivan lembar kerja siswa elektronik berbasis multimedia memiliki nilai yang sangat baik berdasarkan soal soal yang telah dikerjakan ssiwa dalam lembar kerja elektronik siswa.

Sedangkan Apriyanto dkk (2019) melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan E-LKPD Berpendekatan Saintifik Larutan Elektrolit Dan Non Elektrolit”. Dalam hasil penelitiannya yang mengembangkan E-LKPD di SMAN 7 Kota Jambi memiliki nilai respon yang posiif pada siswa, yang mana dalam penelitiannya menggunakan software 3D pageflip pada materi larutan elektronik dan non elektronik dikategorikan memiliki nilai yang sangat baik pada lembar kerja siswa dengan memiliki hasil presentasi 81,7% maka produk yang dikembangkan oleh pengembang dapat dikategorikan sangat bbaik. Pada pengembangan E-LKPD ini termasuk kategori yang layak digunakan dalam materi kimia yang diperolh dari hasil respon siswa dengan menggunakan pendekatan saintifific pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit yang telah dikembangkan.

Berdasarkan uraian diatas, untuk meningkatkan suatu keterampilan sisea dalam mengutarakan pendapat berdasarkan yang mereka lihat, maka pengembangan LKPD diangkat untuk dijadikan seuah penelitian denga menggunakan model kontekstual untuk meningkatkan berpikir kreatif siswa ketika mengobservasi di lapangan.

Teori Belajar Terhadap CTL (Contextual Teaching Learning)

Kata “kontekstual” berasal dari “konteks” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung dua arti: 1) bagian sesuatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2) situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadian.

       Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka seharihari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (AuthenticAssessment).

       Johnson, mengartikan pembelajaran kontekstual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya (Kadir.2013:25).

Teori konstruktivisme merupakan proses pembelajaran bukanlah hanya sekedar menghafal saja, tetapu proses pengkontruksi pengetahuan yang mana hal ini berdasarkan pengalaman yang peserta didik alami. Elajar juga merupakan suau proses pementukan pengetahuan, pementukan yang dimaksud yaitu harus dilakukan oleh siswa, yang mana sisw aharus aktif, melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan juga memberikab makna entang hal hal yang akan dipelajari.

Teori konstruktivis yang dapat digunakan untuk mengajarkan “mengapa” yaitu dapat meningkatkan berpikir dan mengangkat makna personal, keadaan dan belajarnya yang kontekstual atau nyata dala kehidupan peserta didik atau memiliki hubungan erat dengan Contextual Teaching Learning.

Kamis, 14 November 2019


LAPORAN isolasi senyawa p-metoksisinamat dari kencur (Kaemferiam galanga L)

VII.     Data Pengamatan
PROSEDUR KERJA
PENGAMATAN
Dimasukkan serbuk ke 250ml Erlenmeyer

Serbuk berwarna putih kekuningan dalam kondisi kering
Direndam dengan 100 ml kloroform

Terdapat selapis larutan kloroforn diatas permukaan serbuk simplisia rimpang kencur kering
Dihangatkan pada penangas air sambil digoyang-goyang
Bau khas dari kencur bercampur dengan bau khas kloroform semakin kuat, warna larutan semakin memekat dan keruh.
Dibiarkan selama setengah jam pada suhu kamar kemudian saring
Larutan kloroform berwarna kuning bening.
Dipisahkan residu kencur dan sekali lagi perkolasi sekali lagi menggunakan pelarut dengan jumlah yang sama
Larutan kloroform bercampur ekstrak kencur terpisah dengan serbuk kasar dari rimpang kencur, diperoleh larutan kuning bening.
Filtrat Diperoleh kemudian digabung dan dipekatkan di bawah tekanan rendah (volume) hingga volume kira-kira setengahnya
Volume berkurang, warna larutan semakin memekat dan keruh.
Didinginkan penyelesaian pekat dalam air, padatan yang terbentuk menyimpang dengan corong Buchner, filtrat dipekatkan sekali lagi dan padatan yang kedua setelah disaring digabung kemudian ditimbang
Diperoleh Kristal berwarna kuning
Dihitung rendemennya! Reksistalisasi dilakukan dalam klorofrom.kemudian menilai titik lelehnya dan membandingkan dengan sastra (45-50ºC)
Diperoleh titik leleh

VIII.    Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu melakukan percobaan isolasi etil parametoksi sinamat pada rimpang kencur. Tujuan dari percobaan kali ini adalah dapat melakukan dan mengetahui cara isolasi etil parametoksi sinamat dari rimpang kencur dengan menggunakan cara/metode ekstraksi berupa maserasi.
    Etil parametoksi sinamat merupakan kandungan kimia utama dari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) dengan aktifitas analgetik dan diduga bertanggung jawab terhadao efek penambahan nafsu makan. Etil parametoksi sinamat merupakan senyawa ester yang mengandung cincin benzen yang mengikat gugus metoksi dan gugus karbonil yang mengikat etil sehingga bersifat sedikit polar. Etil parametoksi sinamat dapat dideteksi dengan anisaldehid asam sulfat atau vanilin asam sulfat .
     Adapun klasifikasi dari Kaempferia galanga L. adalah sebagai berikut :
           Kingdom : Plantae
           Subkingdom : Tracheobionta
           Super Divisi : SPermatophyta
           Divisi : Magnoliophyta
           Kelas : Liliopsida
           Sub Kelas : Commelinidae
           Ordo : Zingiberales
           Family : Zingiberaceae
           Genus : Kaempferia
           Spesies : Kaempferia galanga L.
     Kandungan dari Kaempferia galanga L. antara lain adalah pati, mineral, etil parametoksi sinamat, minyak atsiri yang mengandung borneol, smed, asam sinamat dan asam anisat.
Pada prosedur pertama, di instruksikan untuk merendam simplisia rimpang kencur yang sudah halus dengan menggunakan pelarut, pelarut yang di gunakan adalah kloroform, metode ini biasa kita kenal dengan istilah Maserasi atau ekstraksi dingin, maserasi dilakuakan selama satu kali dua puluh empat jam atau satu malamsatu hari. Maserasi yang dilakukan selama 24 jam ini bertujuan agar sel-sel pada rimpang kencur dapat aktif, sehingga nanti akan diperoleh ekstrak dengan kandungan tinggi. Jika prosedur langsung ke proses perkolasi maka kemungkinan aka nada sel yang tidak mengembang dan tidak mengeluarkan ekstrak yang mengandung komponen etil p-metoksisinamat.
Ekstraksi dingin atau maserasi dilanjutkan dengan perkolasi dengan menggunakan pelarut kloroform yang dipanaskan tidakn sampai melebihi titik leleh dari senyawa etil p-metoksisinamat. Temperature proses perkolasi harus dijaga agar tidak terlalu dingin juga, Karena akan menyebabkan penyarian yang tidak maksimal. Volume pelarut yang menetes juga dijaga hanya 2-4 tetes perdetik, kecepatan pelarut dalam melewati simplisia ini juga menentukan hasil penyarian nantinya, karena akan jika terlalu cepat maka pelarut hanya akan melewati sampel tanpa mengekstraksi sampel tersebut dan berakibat penyarian yang tidak sempurna. Namun jika kecepatan pengaliran pelarut terlalu lama akan membuang waktu saja.
Ekstrak yang diperoleh kemudian diuapkan dengan menggunakan bantuan pemanasan, namun masih dalam kontrol temperature dengan menggunakan thermometer, diaman temperature yang digunakan tidak melebihi titik leleh senyawa p-metoksisinamat yaitu 48-49°C. Setelah ekstrak sekitar 90% pelarut menguap maka ekstrak sampel direndam di dalam ice bath, tetapi karena begitu sedikit yang menyebabkan susahnya penyaringan, maka kami melanjutkan penguapan sisa pelarut tanpa pemanasa tetapi diangin-anginkan di dalam suhu ruang, hasilk akhir diperoleh Kristal berwarna putih namun cenderung kekuningan dengan bau yang masih menyerupai bau kencur.
IX. Pertanyaan Pasca Praktikum
1.      Mengapa pada proses rekristalisasi, dilakukan didalam kloroform? Dapatkah kloroform kita ganti dengan zat lain?
2.      Pada proses perkolasi, kita juga harus menjaga temperaturnya agar tidak terlalu dingin. Mengapa demikian?
3.      Mengapa pada hasil yang didapatkan masih terdapat bau kencur dan warna kristalnya berwarna kekuningan?
X. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil praktikum isolasi senyawa p-metoksisinamat dari kencur sebagai berikut:
Prinsip maserasi ialah ekstraksi simplisia dengan menggunakan pelarut yang sesuai denganbeberapa kali penggojogan dimana ekstraksi dilakukan pada suhu kamar. Mekanisme darimaserasi ialah pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga selyang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, makalarutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadikeseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel
XI. Daftar Pustaka
Horizon. 2017. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi: Universitas Jambi
Reza,M,2015.  Amidasi Senyawa EPMS Melalui Reaksi Langsung Dengan Iradiasi Microwave Dan Uji Aktivitas Antiinflamasi. Skripsi FKIK UIN Jakarta
Setyawan, Eko. 2012. Optimasi Yield Etil P-Metoksi Sinamat Pada Ekstraksi Oleoresin Kencur Menggunakan Pelarut Etanol. Jurnam Bahan Alam Terbarukan. Vol (1) No: 1
Soerarti, W., Dkk.2014. Penentuan Dosis Asam P-Metoksisinamat (APMS) Sebagai Anti Inflamasi Topikal Dan Studi Penetrasi APMS Melalui Kulit Tukus Dengan Tanpa Statum Kormeum. Jurnal Farmasi Dan Ilmu Kefarmasian Indonesia. Vol 1. No. 1
Sri H, Dkk.2015. Potensi Rimpang Kencur (Kaempferia Galanga L) Sebagai Pencegah Osteoporosis Dan Penurun Kolesterol Melalui Studi In-Vivo Dan In-Silico Prosiding Seminar Nasional Peluang Herbal Sebagai Madicine. ISBN: 978-19556-2-8.

Sabtu, 02 November 2019


LAPORAN isolasi senyawa bahan alam (alkaloid)

VII.                      DATA PENGAMATAN
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan 25 gr teh kering, 250 ml air dan 25 gr CaCO3 kedalam Erlenmeyer
Campuran berwarna coklat pudar, dan terdapat serbuk teh di dasar Erlenmeyer
Dipanaskan diatas uap air selama 20 menit, sambil di aduk
Campuran mendidih, dan mulai naik keatas
Didinginkan diudara, disaring alrutan dengan corong Buchner, dipindahkan dalam corong pisah
Suhu campuran turun, filtrate berwarna coklat
Diekstraksi dengan 25ml kloroform sebanyak 3 kali, campuran didestilasi, sampai diperoleh larutan jenuhnya
Campuran bagian bawah disimpan untuk didestilasi, larutan berwarna hijau
Disublimasi dengan cawan
Terdapat Kristal putih


VIII.                   PEMBAHASAN
          Pada praktikum kali ini, sampel yang digunakan adalah daun teh, dimana sebanyak 25gram daun teh kering yang kemudian ditambahkan 25gram CaCO3 dan dicampurkan dengan air sebanyak 250ml dimana hasilnya teh kering tersebut tidak larut, namun warna larutan berubah menjadi warna coklat susu, setelah itu campuran tadi dipanaskan diatas uap air lebih kurang selama 20 menit. Dimana larutan tersebut sambil diadik dimana larutan tersebut sambil diadik yang pada awalnya warna coklat susu, berubah menjadi warna coklat pekat, serta terdapat endapan CaCO3 dari teh yang digunakan tadi dibiarkan beberapa saat sampai larutan ersebut dingin, dimana endapan Dan titran tadi terbentuk 2 lapisan yang terpisah, kemudian endapan/filtrat tadi disaring menggunakan kertas saring.
       Setelah itu, dimasukkan filrat tersebut kedalam corong pisah dimana kita melakukan ekstraksi pada larutan tersebut dimana corong pemisah tersebut kita kocok terus menerus sebanyak 2 kali dengan 25ml kloroform selama ± 5menit, dimaa saat dimasukkan kloroform sebelum di eksraksi tadi, larutan tersebut terdapat 2 lapisan yang berwarna bening dan coklat pekat. Saat proses ekstraksi selama 5 menit pertama hasil campurannya menjadi coklat keruh  seperti warna coklat susu serta terjadilah emulsi yang kelama lamaan warnanya menjadi 2, serta terbentuk 2 lapisan warna bening dan coklat pekat.
       Setelah itu, dilakukan pemisahan 2 lapisan tersebut ke dalam erlenmeyer dan kemudian larutan tersebut dipanaskan diatas penangas air. Dimana lapisan yang dipanaskan menjadi warna coklat susu serta banyak sekali terdapat gelembung.
       Menurut literatur, teh juga mengandung kafein dalam dosis yang kecil dan dapat meningkatkan kewaspadaan, menghilangkan kantuk, mengurangi kelelahan, dan sebagai diuretik. Efek samping dari kafein berhubungan dengan stimulan susunan syaraf pusat seperti pusing, meningkatkan detak jantung, kecemasan, tremor, dan insomnia serta juga dapat menyebabkan iritasi saluran diare, mual, dan muntah. Efek rangsangan teh disebabkan oleh adanya kafein yang berkaitan dengan tanin, yang juga terkandungndalam daun teh. Karena kafein mudah larut dalam air panas, maka kafein yang terkandung dalam daun teh akan ikut terbawa dalam suasana panas. Bagian yang paling banyak kafein didalam tanaman teh yaitu sebesar 1-5%.
       Isolasi dalam teh dapat dilakukan dengan cara rekristalisasi. Isolasi adalah proses pengambilan atau pemisahan  suatu zat dari suatu bahan alam dengan menggunakan suatu pelarut yang sesuai. Kelarutan suatu zat didalam pelarut tergantung dari ikatanya apakah polar atau non polar. Bahan-bahan organik tidak selalu larut dalam air, oleh karena itu dapat dipisahkan dengan menggunakan corong pisah.

IX.                       PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM
1.      Mengapa larutan daunteh yang telah ditambahkan dengan air dan kalsium karbonat dipanaskan selama 20 menit?
2.      Pada percobaan kali ini, kita menggunakan destilasi. Mengapa harus menggunakan destilasi? Apakah destilasi ini dapat kita ganti dengan menggunakan proses ekstraksi yg lain?
3.      Pada percobaan kali ini, kita mengalami beberapa kali kegagalan. Coba jelaskan faktor apa saja yng dapat menyebabkan kegagalan pada praktikum kali ini.

X.                          KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari percobaan kali ini, yaitu:
1.      Teknik-teknik isolasi bahan alam banyak sekali yang mengisolasi ini dapat dilakukan dengan cara mengektraksi ataupun isolasi dengan cara maserasi untuk isolasi senyawa alkaloid biasanya dilakukan dengan menggunakan ekstraksi pelarut.
2.      Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu bahan atom nitrogen yang bersifat basa dan merupakan bagian dari cincin heterosiklik.
3.      Ekstraksi bahan alam dapat dilakukan dengan cara maserasi

XI.                       DAFTAR PUSTAKA
Ahmad syamsul,1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta:Universitas Terbuka
Harbone,J,B.1987. Metode Kurva Fito Kurva Penuntun Cara Moderen Menganalisis tumbuhan .Edisi 4, Terjemahan Kokasih P dan Soediro L Bandung: Institut Teknology Bandung
Horizon, 2017. Penuntun Praktikum Kimia Organik III. Jambi : Universitas Jambi
Slamet, S. 2003. Analisis Bahan Makanan Dan Pertanian. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utami, Nurul. 2008. Identifikasi Senyawa Alkohol dan Heksana Daun. FMIPA UNILA, Lampung. Hal: 136

Selasa, 29 Oktober 2019

JURNAL ISOLASI SENYAWA p-METOKSI SINAMAT DARI KENCUR (Kaemferiam galanga L)
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

NAMA: TIURMA REFINA LESTARI SILABAN
NIM: RSA1C117011

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019

PERCOBAAN 8
I.                   JUDUL: ISOLASI SENYAWA p-METOKSI SINAMAT DARI KENCUR (Kaemferiam galanga L)
II.                HARI/TANGGAL: RABU/ 30 OKTOBER 2019
III.             TUJUAN: - Dapat menguasai teknik-teknik isolasi bahan alam khususnya senyawa fenilpropanoid
-          Dapat mengenal sifat-sifat kimia fenil propanol melalui reaksi-reaksi pengenalan yang spesifik
IV.             LANDASAN TEORI
Kencur adalah sebuah tanaman yang biasanya bertumbuh di kebun, pekarangan rumah, dan biasanya digunakan sebagai bumbu dapur dan juga merupakan salah satu bahan obat tradisional yang berada di Indonesia. Ada beberapa senyawa organim yang terdapat di dalam kencur ini, seperti: etil p-metoksi sinamat, etil sinamat yang merupakan komponen uama, p-metokstiren dll. Banyaknya etil p-metoksi sinamat dalam kencur ini, cukup tinggi dan dapat mencapai 10% oleh karena itu, dengan mudah dapat diisolasi dari umbi-nya dengan menggunakan pelarut protelium atau etanol (Horizon,2017).
Ada banyak kandungan kimia didalam tanaman kencur seperti ettil sinamat, etil p-metoksisinamat, p-metoksistiren, karen, borneol, dan parafin. Kandungan dari minyak atsiri kencur berupa a-pinena, kampena, d-3carene, a-pelandrena, limonene, p-simena 4 isopropilena dan lain-lain. Etil sinamat dan etil p-metoksi sinamat (EPMS) dari minyak atsiri kencur yang banyak digunakan didalam industri kosmetika dan dimanfaatkan juga didalam bidang farmasi yang sigunakan sebagai obat dari asma dan anti jamur. Etil p-metoksi sinamat juga merupakan salah satu golongan senyawa yang diduga dapat menstimulasikan estrogen (Sri,2015).
kencur (Kaempferia galanga L) telah diketahui secara empiris kencur memiliki efek antiinflamasi. Kandungan utama kencur yaitu p-metoksi sinamat 31,77% yang mana didalam tubuh akan mengalami hidrolisis menjadi senyawa aktif biologis . asam p-metoksi sinamat (APMS) yang mana senyawa ini akan bekera dengan cara menghambat enzim siklooksigenase, sehingga konversi dari asam arakidonat yang akan menjadi prostaglandi teganggu. Pada penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) Sering sekali memberikan efek yang menyebabkan iritasi salura pencernaan. Ada cara yang dapat menghindari permasalahan tersebut, yaitu dengan cara  mengembangkan penggunaan obat secara tipikal (Soeratri.et al,2014).
Etil p-metoksi sinamat termasuk suau senyawa yang merupakan turunan asam sinamat. Dengan demikian jalur biosintesis senyawa EPMS yang mana hal ini melalui jalur biosintesis asam sikhimat, etil p-metoksisinamat termasuk juga kedalan senyawa ester yang mengandung cincin  benzen dan juga gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan yang juga memiliki gugus karbonil yang akan mengikat etil dan bersifat sedikit plar sehingga didalam ekstrakinya dapat menggunakan pelarut yang mempunyai variasu kepolaran seperti etanol, etil asetat, metanol, air dan n-heksan (Reza, M. 2015)
EPMS termasuk ke dalam golongan senywa ester yang mana mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang memiliki sifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil sehingga bersifat sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran, yaitu etanol, etil asetat, metanol, air dan heksana. Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi harus mempunyau kepolaran yang berbeda. Ekstraksi EPMS dari kencur menggunakan suhu yang kurang dari titik lelehnya, yaitu: 48-500C (Setyawan, Iwan. 2012).
V.                ALAT DAN BAHAN
5.1.ALAT
a.       Erlenmeyer 250ml
b.      Kertas saring
c.       KLT
d.      Penangas air
e.       Corong Buchner
f.       Labu bulat
g.      Corong biasa
h.      Evavorator
i.        Alat ukur TI
5.2.BAHAN
a.       Kencur yang telah ditumbuk
b.      Kloroform
c.       Etanol
d.      NaOH
e.       Methanol
f.       Asam sulfat klorida
VI.             PROSEDUR KERJA
Adapun prosedur dari percobaan kali ini yaitu dengan judul isolasi senyawa metoksi p-sinamat dari kencur, yaitu:
a.       Isolasi Etil p-Metoksi Sinamat
·         Dimasukkan serbuk kencur kedalam Erlenmeyer 250ml
·         Direndam dengan 100ml klorofrom
·         Dihangatkan pada penangas air sambil digoyang-goyang
·         Dibiarkan selama setengah jam pada temperature kamar kemudian saring
·         Dipisahkan residu kencur dan ulangi perkolasi sekali lagi menggunakan pelarut dengan jumlah yang sama
·         Diperoleh filtrate kemudian digabung dan dipekatkan dibawah tekanan rendah (evavorator) sampai volume larutan kira-kira setengahnya
·         Didinginkan larutan pekat dalam air es, padatan yang terbentuk disaring dengan corong Buchner , filtrate dipekatkan sekali lagi dan padatan yang kedua setelah disaring digabung kemudian ditimbang
·         Dihitung rendemennya! Reksistalisasi dilakukan dalam klorofrom.kemudian diukur titik lelehnya dan bandingkan dengan literature (45-50ºC)
b.      Pemeriksaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
·         Dilarutkan sampelkristal hasil isolasi dalam petroleum eter menggunakan kapiler ditotolkan pada plat KLT ukuran 2x5 cm.
·         Digunakan etil p-metoksi sinamatdan asam p-metoksi sinamat standar sebagai pembanding pada jarak 0,5 cm dari bawah
·         Dimasukkan dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan eluen kloroform , pengamatan bercak dilakukan dengan melihatnya dibawah lampu UV atau dimasukkan kedalam chamber iodium
·         Dihitung rf-nya dan dibandingkan dengan standar
c.       Pemeriksaan Spektroskopi Ultra Violet
·         Dilarutkan Kristal hasil isolasi dalam methanol
·         Dibuat spectrum ultra violetnya pada daerah panjang gelombang 200-300 nm
d.      Pemeriksaan Spektroskopi Infra Merah
·         Dibuat pellet Kristal hasil isolasi dengan KBr kering
·         Dibuat spectrum infra merahnya
Link video:
pertanyaan:
1.      Mengapa pada tahap isolasi etil p-metoksisinamat campuran kloroform dengan serbuk kencur direndam selama 2 jam? Apakah fungsinya?
2.      Pada tahap rekristalisasi menggunakan kloroform. Mengapa harus menggunakan kloroform dapatkah diganti dengan zat lain? Coba jelaskan
3. Ketika larutan sampel kristal yang dijenuhkan dengan eluen kloroform, pengamatan bercaknya menggunakan sinar UV. Mengapa harus menggunakan sinar UV?

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

  LATAR BELAKANG MASALAH Kimia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bersifat fakta namun juga dapat di klasifikasikan ada yang b...