JURNAL PEMBUATAN ASAM ASETIL SALISILAT (ASPIRIN) PRAKTIKUM
KIMIA
ORGANIK II

NAMA:
TIURMA REFINA LESTARI SILABAN
NIM:
RSA1C117011
DOSEN
PENGAMPU
Dr.
Drs. SYAMSURIZAL, M.Si
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2019
PERCOBAAN 3
I.
JUDUL:
PEMBUATAN ASAM ASETIL SALISILAT (ASPIRIN)
II.
HARI/TANGGAL:
RABU/
11 SEPTEMBER 2019
III.
TUJUAN:
- Dapat
memahami cara pembuatan asam asetil salisilat dari bahan baku asam salisilat
dan asam asetat anhidrat
-
Dapat mengetahui dan memahami jenis
reaksi pembuatan asam asetil salisilat
IV.
LANDASAN
TEORI
Aspirin adalah senyawa turunan dari asam
salisilat, yang bdibuat dari proses asetilasi asam salisilat dalam kondisi yang
bebas air. Ketika masih terdapat air, aspirin yang terbentuk akan terhidrolisis
kembali membentuk asam salisilat. Asetil merupakan proses pengganti atom H pada
gugus –OH dari asam salisilat dengan
gugus asetil. Dasar pembuatan aspirin merupakan proses reaksi asetilasi.
Senyawa ini dpaat menggunakan asam sulfat pekat dengan menggunakan asam sulfat
sebagai katalisator. Dalam hal ini, penggunaan katalis asam sulfat petkat. Karena
reaksi dpat berlangsung dengan baik jika direfluks bersama asam sulfat klorida.
Pada praktikum ini, sumber gugus asam asetat anhidrat dengan katalis asam
sulfat yang juga berperan sebagai penyerap air (Mahlinda,2011).
Rumus
molekul dari asam salisilat yaitu C6H4COOHOH yang akan
membentuk kristal kecil yang akan memiliki berat 138,123 g/mol dengan titik
leleh sebesar 156oC. Denga ciri ciri mudah larut dalam keadaan
dingin tetapi dapat melarut juga dalam keadaan panas. Asam salisilat juga dapat
menyublim tetapi terkondensasi menjadi
karbon dioksida dan fenol bila dipanaskan. Asam salisilat kebanyakan digunakan
sebagai bahan obat obatan dan intermediet pada pabrik obat farmasi seperti
aspirin dan beberapa turunannya (Kristian,2007).
Gugus acetyl adalah
R-COO- (dimana R
merupakan alkil atau aril). Aspirin disebut juga asam asetil salisilat atau acetylsalicylic
acid, dapat dibuat dengan cara asetilasi senyawa phenol (dalam bentuk asam salisilat)
menggunakan anhidrida asetat dengan bantuan sedikit katalis yaitu Asam Sulfat
pekat. Pada pembuatan Aspirin, asam salisilat (o-hydroxiy benzoic acid)
berfungsi sebagai alkohol dan reaksinya berlangsung pada gugus hidroksi (Dewi,2003)
Aspirin digunakan sebagai analgesik untuk nyeri dari berbagai
penyebab (sakit kepala, nyeri tubuh, arthritis, dismenore, neuralgia, gout, dan
sebagainya), dan untuk kondisi demam, Aspirin juga berguna dalam mengobati
penyakit rematik, dan sebagai anti-platelet (untuk mengencerkan darah dan
mencegah pembekuan darah) dalam arteri koroner (jantung) dan di dalam vena pada
kaki dan panggul. Ada juga artikel yang ditulis dalam literatur medis
mendalilkan penurunan kejadian kanker usus besar di antara mereka yang secara
teratur mengonsumsi Aspirin pada dosis tertentu. Saat ini banyak dokter dan
pasien yang menggunakan Aspirin dosis rendah (baby Aspirin atau Aspirin
berdosis 81 mg) setiap hari untuk mengurangi kemungkinan mendapatkan serangan
jantung dan stroke melalui aksi anti-plateletnya (pengencer darah dan mencegah
pembekuan darah) (Ahmadi,2010)
Asam salisilat (o-hidroksi asam
benzoat) merupakan bifungsional, yaitu gugus fungsi hidroksil dan gugus fungsi
karboksil. Dengan demikian asam salisilat dapat berfungsi sebagai fenol
(hidroksi benzena) dan juga dapat berfungsi sebagai asam benzoat. Baik dalam
keadaan asam maupun sebagai fenol, asam salisilat dapat mengalami reaksi
esterifikasi bila direaksikan asam aseil salisilat (aspirin). Apabila asam
salisilat direaksikan dengan metanol (alkohol) juga mengalami reaksi
esterifikasi ester metil salisilat (minyak gandapura) (Horizon,2017)
V.
ALAT
DAN BAHAN
5.1.
ALAT:
a. Erlenmeyer
100ml
b. Batang
pengaduk
c. Gelas
kimia 500ml
d. Pipet
tetes
e. Corong
buncher
5.2.BAHAN
a. Asam
salisilat
b. Ferriklorida
c. Anhidrida
asam
d. Piridin
e. Asam
sulfat pekat
f. Asetil
klorida
VI.
PROSEDUR
KERJA
Untuk membuat senyawa organik asam
asetil salisilat (aspirin):
1. Dalam
labu erlenmeyer 100ml, dimasukkan asam 2,5 asam salisilat kering, dan 4ml
anhidrat asam asetat dan 2 tetes H2SO4 pekat
2. Dikocok
campuran sambil di panaskan di penangas air pada suhu 50-60oc selama
kurang lebih 15 menit
3. Ditambahkan
50ml air kedalamnya secara hati-hati dan didinginkan dalam air dingin. Disaring
kristal yang terbentuk dengan pompa isap dan dicuci dengan air es atau air
dingin
4. Dilakukan
proses rekristalisasi: dimasukkan aspirin yang terbentuk dalam erlenmeyer,
ditambahkan 5ml etanol-50ml air dan dipanaskan erlenmeyer diatas hotplate
sampai kristal melarut. Jika tidak semua kristal melarut, ditambahkan
etanol-air 50% dan ditambahkan terus menerus tetes demi tetes sampai semua
kristal melarut
5. Jika
tetap masih ada residu, saring larutan dalam keadaan panas menggunakan kertas
saring lipat
6. Didinginkan
filtrat, bila mulai terbentuk kristal, dimasukkan erlenmeyer kedalam ice bath
selama 15 menit
7. Disaring
kristal yang terbentuk menggunakan pompa isap, dicuci dengan air dingin dan
dibiarkan mengering
8. Ditimbang
produk yang telah mengering, dihitung % hasilnya dan diperlihatkan kepada dosen pembimbing
Tentukan
kemurniannya dengan TLC
1. Dilarutkan
produk aspirin yang dihasilkan pada langkah 7 dengan menggunakan etanol-air50%
2. Pada
plat TLC yang telah disiapkan, ditotolkan produk aspirin yang telah larut
tersebut pada garis batas (sebelah kanan) dan ditotolkan standar asam salisilat
yang telah disediakan (kiri)
3. Dituangkan
5ml eluen (alkohol 95%) kedalam beker gelas 100ml, diletakkan plat tlc tersebut
(dalam posisi berdiri) kedalamnya dan ditutup dengan aluminium foil
4. Hentikan
proses elusi bila jarak eluen mencapai batas garis atas ujung plat TLC
5. Dikeringkan
plat TLC tersebut dan diserahkan ke asisten dosen dan diidentifikasi dengan
menggunakan larutan FeCl3
6. Digambar
dengan menggunakan pensil untuk spot/noda yang didapat dan ditentukan harga
Rfnya.
Link video: https://youtu.be/_BEY55hv8bc
Pertanyaan:
1. Berdasarkan
video tersebut Mengapa pada saat proses rekristalisasi dilakukan pemanasan
etanol?
2. Mengapa
setelah dilakukan pencampuran asam salisilat anhidrat asam asetat dan asam
sulfat dilakukan pemanasan hanya pada temperatur 50-60oc? Mengapa demikian?
3. Pada
saat penetesan campuran ke dalam plat, mengapa pada saat penambahan FeCl3 terjadi
perubahan warna?
Nomor 2.
BalasHapusdipanaskan pada suhu 50-60 ⁰C sambil diaduk selama beberapa menit. suhu harus konstan jika terlalu tinggi maka aspirin akan terhidrolisis menjadi asam asetat. Pemanasan yang dilakukan di untuk mempercepat reaksi sehingga menyebabkan asam salisilat larut dalam asam asetat anhidrat dan asam sulfat.
No 3 karena funsi dari FeCl3 itu berfungsi untuk menguji bahwa pada saat pembuatan aspirin dapat dikatakan bereaksi dengan uji perubahan warna dengan FeCl3 warna ungu menjadi warna putih
BalasHapussaya mencoba menjawab no 1
BalasHapusFungsi etanol panas itu untuk melarutkan kristalisasi yang belum murni. Ketika kristal yg belum murni di campurkan dengan etanol pana, maka kristal yg belum murni tersbut akan larut. Dan ketika disaring, maka zat pengotor akan tinggal di kertas saring tersebut. Kemudian larutan yg berada di erlenmeyer di dinginkan kembali maka akan didapatkan asam oksalat murni